Tampilkan postingan dengan label Peluang Usaha Handicraft. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peluang Usaha Handicraft. Tampilkan semua postingan

Usaha KreasiTas Dari Sapu lidi

Diposting oleh Admin on Minggu, 12 Desember 2010

Merangkai Laba dari Tas Lidi
KOMPAS.com -  Dari masa ke masa, tas menjadi perlengkapan tak terpisahkan bagi kaum hawa. Dalam setiap aktivitasnya, perempuan selalu menenteng barang satu ini. Jangan heran jika produsen tas juga rajin menggelontorkan model baru ke pasar.
Bahkan, untuk membuat produk ini berbeda, tak jarang produsen melakukan pelbagai inovasi. Salah satunya, membuat tas dari bahan sapu lidi. Salah satu produsennya adalah Sutarpi.
Ide membuat tas drai lidi ini terbersit dui benak Sutarpi  saat ia mencari bahan baku tas yang lebih murah. “Ketika krisis, saya mencari ide mendapatkan bahan baku tas yang murah,” tutur perempuan yang telah menggeluti usaha produksi tas sejak 1994 ini.
Bermodalkan duit Rp 1 juta buat membeli batang-batang lidi, sejak awal 2008, perempuan berusia 35 tahun ini mulai menjalankan produksi tas berbahan baku lidi.
Dibantu empat orang karyawan, Sutarpi merangkai batang-batang lidi menjadi sebuah tas. Tentu, batang lidi itu sebelumnya telah diwarnai agar lebih menarik.
Di kawasan Wirobrajan, Yogyakarta, Sutarpi mulai memperkenalkan tas lidi buatannya itu ke masyarakat.Meski terbilang barang baru, ternyata banyak yang kecantol dengan tas lidi Sutarpi.
Dalam waktu singkat, ia bisa meraup omzet Rp 300.000 sehari dari jualan tas lidi. “Ini kan jenis baru. Jadi, banyak orang suka dengan tas lidi saya,” katanya.
Permintaan yang terus meningkat memaksa Sutarpi menambah jumlah karyawannya menjadi enam orang. Bahkan, ia kadang harus menambah jumlahnya menjadi 10 orang, jika ada pesanan dalam jumlah besar.
Sejauh ini, Sutarpi relatif tidak menemui kesulitan soal pasokan bahan baku. Sebab, selain harga lidi relatif murah, barangnya juga mudah didapat. “Saya membelinya di pasar,” ujarnya.
Pembeli dari India
Setiap hari, Sutarpi mampu memproduksi 10 model tas dengan jumlah total 100 unit.  Namun, jika ia kebetulan sedang membuat model agak susah, produksinya hanya 50 tas per hari. Harga tas bervariasi, mulai Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per unit, tergantung model dan kualitas.
Sutarpi mengaku bisa meraup omzet sampai Rp 750.000 per hari. “Marjin masing-masing tas mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 5.000,” ungkapnya.
Selama ini, pembeli tas lidi Sutarpi tak terbatas pada masyarakat Yogyakarta. Ada beberapa pelanggan dari Jakarta, Medan, bahkan India. “Pembeli dari India rutin memesan setiap tiga bulan sekali,” katanya bangga.
Bicara soal pemasaran, Sutarpi menggunakan dua cara: tradisional dan modern. Cara tradisional adalah dengan menjajakan sendiri barang dagangannya hingga menitip ke kios. Sedangkan cara modern, ia memasarkan produknya lewat dunia maya. “Tapi, selama ini, promosi lewat internet masih belum maksimal,” akunya.
Bagi Anda yang tertarik mencoba bisnis tas lidi ini, ada beberapa tip menarik dari Sutarpi.
Pertama, siapkan modal minimal Rp 1 juta buat membeli bahan baku lidi. “Perkiraan saya, uang segitu mampu  memproduksi hingga 50 tas lidi per hari,” ujar Sutarpi.
Kedua, cari pekerja yang ulet dan mahir merangkai lidi menjadi tas nan apik. Maklum, membuat tas ini cukup sulit.
Ketiga, Anda harus jeli melihat selera pasar yang mudah berubah. “Makanya, sekarang saya memadukan bahan lidi dengan aksesori akar wangi, enceng gondok, dan bahan lainnya,” papar Sutarpi. (Dessy Rosalina/Kontan)
Sumber : kompas
More about → Usaha KreasiTas Dari Sapu lidi

Usaha Hiasan Dari Keping Cd

Diposting oleh Admin

Sejak pertama kali diproduksi, kehadiran compact disc seolah telah menyingkirkan keberadaan pita kaset. Alasannya, cakram padat sebagai alat penyimpan data, baik dokumen, gambar, suara, maupun film ini, memiliki kapasitas penyimpanan yang jauh lebih besar. Maka tidak heran jika CD termasuk VCD dan DVD yang beredar di pasaran jumlahnya terus meningkat. Kalau pada tahun 2004 saja sudah terdapat sekitar 30 miliar keping CD, maka saat ini mungkin sudah mencapai ratusan miliar. Padahal, benda ini tergolong kurang awet karena rentan terkena gores, debu, panas dan sebagainya.
Jika setiap keping CD yang rusak lantas dibuang begitu saja sama artinya menciptakan pencemaran lingkungan yang luar biasa. Maka jangan buru-buru membuang tumpukan kaset CD, VCD, dan DVD rusak ke keranjang sampah. Mengapa? Kaset CD bekas masih bisa dimanfaatkan. Tengok saja usaha yang dirintis oleh Tri Heri Subagyo. Warga Bekasi ini memanfaatkan limbah CD bekas sebagai bahan baku kerajinan unik nan cantik.
Berbagai hiasan menarik telah dihasilkan mulai dari bingkai foto, tempat pensil, binatang, boneka Jepang, pin hingga rumah-rumahan. Sekilas, orang pasti tidak akan menyangka jika bahan baku hiasan itu terbuat dari CD bekas. Sebab setelah dipadupadankan dengan bahan-bahan lain, bentuk bahan aslinya nyaris tidak kelihatan. Bentuk dominan cakram bundar terkadang memang masih mudah dikenali, kecuali jika memang sengaja dipotong-potong ke bentuk lain sesuai dengan ide pembuatannya. “Bahkan ketika berada di pameran, hiasan dinding ini disangka dari kaca. Setelah kita jelaskan mereka sangat tertarik,” ujar Heri.
Kerajinan Alit Craft dimulai sekitar pertengahan 2008. Awalnya Heri menggunakan limbah kayu-kayu bekas yang harganya murah. Namun usahanya itu sempat terhenti dan baru dilanjutkan Januari 2009, yakni setelah ia mendapat gagasan membuat kerajinan yang memanfaatkan limbah CD bekas. Secara kebetulan ia juga bekerja freelance di bidang IT sehingga ditempatnya banyak terdapat CD bekas. Di samping itu bahan baku juga mudah diperoleh di tempat pemulung, yang biasanya dihargai Rp5 ribu/kg.
More about → Usaha Hiasan Dari Keping Cd

Peluang Usaha souvenir Daun Kering

Diposting oleh Admin

Suvenir Daun Kering






Daun-daun yang berguguran, bagi sebagian orang, cuma merusak pemandangan. Karena, ia membuat jalanan kotor. Tapi, bagi sebagian orang yang lain, seperti Erwan dan Nurus, dedaunan yang sudah berakhir masa hidupnya ini, dapat diubah menjadi “bisnis” yang mendatangkan pemasukan lumayan menggiurkan, dengan mengubahnya menjadi aneka suvenir.
Pada dasarnya, dua bersaudara ini bukanlah yang pertama kali membuat cindera mata berbahan dasar dedaunan kering. Seorang pengrajin di Bali, mengubah daun-daun kering ini menjadi kipas. “Tapi, suvenir yang kami buat memang berbeda, unik. Sebab, sebenarnya kami membuat aneka suvenir dari kayu yang ditempeli limbah organik, seperti daun-daun kering, biji-bijian, logam, dan kuningan. Dengan demikian, fungsi dari daun-daun kering ini hanya sebagai hiasan yang membalut medianya yaitu kayu,” jelas Nurus.

Keunikan itu bukan cuma tampak dari suvenir yang mereka buat, seperti cepu untuk tempat tusuk gigi, bingkai foto berukuran 14 R, tempat pena, kotak nama, serta miniatur becak dan Monumen Nasional, melainkan juga dari daun-daun kering yang mereka gunakan. “Benda ini mempunyai tulang. Apalagi, sebagian dari daun yang kami gunakan tetap menggunakan warna aslinya, sehingga menimbulkan kesan antik atau etnik. Sedangkan sebagian yang lain sudah kami glass, sehingga tulang daunnya terlihat jelas,” katanya. Karena itu, ia menggunakan daun lontar, daun ketapang, daun mangga, daun rambutan, dan sebagainya. “Semua daun dapat digunakan asal tulang daunnya jelas. Sebab, tulang-tulang daun itulah yang ingin kami tonjolkan. Selain itu, daunnya harus elastis, tidak sobek, tidak dimakan ulat, dan tidak ada benalunya, serta permukaannya rata,” imbuhnya.

Daun-daun tersebut mereka peroleh dari lingkungan di sekitar rumah, hunting ke berbagai tempat, hingga sengaja mencarinya ke Kebun Raya Bogor. “Pokoknya setiap daun berserakan yang menarik perhatian, kami ambil. Dedaunan kering itu, selanjutnya kami olah (dibersihkan sehingga bebas dari hama dan bakteri, red.) tanpa meninggalkan warna aslinya. Tapi, nantinya kami juga akan menggunakan pewarna daun. Lebih dari itu semua, daun-daun itu kami peroleh secara gratis. Sekadar informasi, semua bahan baku suvenir buatan kami diperoleh tanpa mengeluarkan uang sesen pun, termasuk kayu yang menjadi media suvenir ini,” ujarnya. Hal ini, sesuai dengan prinsip awal membangun “bisnis” ini yaitu menggunakan bahan baku gratis dan unik, tapi bernilai jual tinggi.

Usaha yang dinamai EN Craft ini dibangun pada 2005 dengan modal awal Rp5 juta hingga Rp10 juta, yang digunakan untuk membeli mesin pemotong kayu. Kini, produk mereka yang dijual dengan harga Rp5 ribu sampai lebih dari Rp100 ribu itu, telah merambah Batam, Jambi, dan Lombok, di samping Jakarta dan sekitarnya. “Dibantu lima karyawan tetap dan 10 karyawan borongan, setiap bulan kami mampu membuat 100 hingga 150 pieces, baik yang dibuat secara manual maupun dengan bantuan mesin. Dari penjualan rata-rata 150 pieces/bulan, kami meraup omset sekitar Rp6 juta hingga Rp8 juta per bulan,” ucap perempuan yang berencana mengekspor produknya ke Dubai, karena prospek penjualannya dinilai bagus.

Untuk meningkatkan omset, selain menerima pesanan 50 hingga 1.000 pieces (untuk pesanan di atas 50 pieces harus dengan uang muka maksimal 50%, red.), Nurus juga menitipjualkan produknya ke Pusat Kerajinan Tangan di Casablanca dan Dewan Kerajinan Nasional DKI di Kebon Sirih. “Akhir Agusutus ini, kami akan membuka gerai di Margo City, Depok, sehingga pemasarannya lebih mudah. Sebab, selama ini kami hanya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut dan melalui internet,” ujarnya. Sekadar informasi, suvenir dari daun kering ini mampu bertahan selama setahun asalkan dirawat dengan benar. Kalau muncul kerusakan, konsumen dipersilahkan untuk mengembalikan ke EN Craft yang berlokasi di Limo, Depok, guna diperbaiki tanpa charge apa pun.

Analisa Bisnis Suvenir Daun Kering (per bulan)

Investasi
- Pembelian mesin Rp 10.000.000,-
Biaya Bahan Baku
- Daun-daun kering gratis Rp -
Biaya Produksi
- 5 karyawan @ Rp500.000,- Rp 2.500.000,-
__________________ +
Total Rp 2.500.000,-

Hasil Penjualan
- 150 suvenir @ Rp50.000,- Rp 7.500.000,-
___________________ -
Laba kotor Rp 5.000.000,-

Catatan: Laba kotor ini hanya didapat dari penjualan, tidak termasuk pemesanan produk. Harga per suvenir diambil dari harga di tengah-tengah antara Rp5 ribu dengan lebih dari Rp100 ribu.

More about → Peluang Usaha souvenir Daun Kering

Usaha Daur ulang Sampah Kertas

Diposting oleh Admin on Jumat, 10 Desember 2010


Peluang Usaha Membuat Kertas Daur Ulang

Koran atau kertas bekas bisa menjadi sumber penghasilan jika kita jeli melihatnya. Mungkin selama ini benda tersebut kita buang atau dijual ke tukang barang bekas dengan imbalan yang tidak seberapa. Nah ternyata dari kertas bekas tersebut tersimpan potensi peluang usaha membuat kertas daur ulang. Intinya kita menambahkan nilai tambah pada benda tersebut agar bernilai ekonomi tinggidan dapat menjadi sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. dengan memakai  kertas daur ulang kita juga turut mendukung kampanye “go green” yang saat ini sedang gencar digalakan oleh berbagai kalangan. Apa itu “go green”? Secara harfiah artinya membuat bumi kita lebih “hijau” atau dengan kata lain menjadikan kita lebih perduli terhadap lingkungan di sekitar kita, salah satunya adalah dengan memakai produk daur ulang sehingga dapat mengurangi sampah yang dibuang ke lingkungan. Ok..mungkin cukup sekian pengantarnya ya, kita langung aja menuju ke cara membuat kertas daur ulang.
*Bahan-bahan yang diperlukan
as daur ulang
*Cara membuat kertas daur ulang
cara membuat kertas daur ulang
cara daur ulang kertas
*Contoh barang yang bisa dibuat dengan kertas daur ulang
peluang usaha

sumber : www.promosipeluangusaha.com
More about → Usaha Daur ulang Sampah Kertas

Usaha Kreatif Pigura

Diposting oleh Admin

Usaha Kreatif Pigura di Jogja karton

Pemanfaatan limbah kertas sekali lagi bisa mendatangkan rupiah bagi jiwa-jiwa kreatif. Karton yang selama ini hanya dijadikan kertas pelapis untuk beberapa produk ternyata bisa menjadi produk unik yang bernilai jual. Kreasi kreatif tersebut yang kini ditekuni oleh Saimun dan Novi istrinya dengan mengembangkan peluang usaha bernama Jogjakarton. Dengan menggunakan kertas karton sebagai bahan baku utamanya, Jogjakarton mengembangkan aneka souvenir pigura dengan berbagai ukuran.
Ditemui dirumahnya daerah Jogoyudan JT III Gowongan Jetis Jogja (23/11), Saimun bercerita mulai mengembangkan usaha kerajinan pigura karton tersebut pada tahun 2006. Namun ketika itu usaha yang dijalankan masih join dengan rekan yang lain. Dan mulai tahun 2009, Saimun dan istri tidak lagi terlibat kerjasama dengan rekannya lagi hingga lahirlah Jogjakarton. Usaha yang awalnya dirintis hanya dengan istri tersebut kini mulai menunjukkan hasil yang  menjanjikan. Terbukti kini Jogjakarton sudah memiliki karyawan bagian produksi untuk membantu memenuhi pesanan yang kian sering berdatangan.
Aneka kerajinan pigura yang diproduksi di Jogjakarton bervariasi bentuk dan ukurannya. Dengan bahan utama kertas karton, berbagai macam pigura dari yang berukuruan 2R hingga 10R diproduksi setiap harinya. Dalam seminggu, Jogjakarton mampu menghasilkan  500 buah pigura dengan berbagai ukuran. Namun jumlah segitu masih bisa bertambah lagi ketika ada pesanan yang datang. Selama ini, Jogjakarton sudah pernah melayani pesanan produk dari Jakarta, Bali, dan Malang.
Pemasaran produk Jogjakarton biasa dilakukan melalui beberapa pameran yang diselenggarakan di kota pelajar Jogja. Selain di pameran-pameran, produk Jogjakarton juga bisa ditemui di Sunday Morning UGM dan beberapa supermarket di wilayah Jogja. Dengan harga yang cukup terjangkau antara Rp. 2.000,00 hingga Rp. 12.000,00 Jogjakarton masih berkeinginan untuk lebih mengembangkan usahanya. Saat ini, Saimun dan Novi istrinya mulai mengembangkan variasi produk lain selain pigura seperti kotak tissue dan kotak asesoris. Selain itu, untuk lebih mempercantik produknya, mereka berkeinginan untuk menambahkan bahan alam sebagai bagian dari pigura-piguranya.
Sekian liputan dari kami, semoga liputan bisnis mengenai usaha kreatif pigura di Jogjakarton dapat menjadi inspirasi bagi Anda. Salam sukses
sumber :www. BisnisUKM.com
More about → Usaha Kreatif Pigura
Diberdayakan oleh Blogger.